Farmasi-QU Jurnal Pelayanan Kefarmasian https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ <p>JURNAL FARMASI BHUMI HUSADA JAKARTA</p> <p>&nbsp;</p> <p>Jurnal Farmasi-Qu bhumi Husada diterbitkan setiap satu tahun sekali dalam bentuk cetak. Ditengah-tengah kesibukan dosen, Redaksi berharap Jurnal Farmasi-Qu Bhumi Husada ini dapat secara rutin terbit setiap satu tahun sekali, untuk itu kami mohon partisipasi, komitmen dan dukungannya.</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Banyak tantangan yang dihadapi untuk dapat diterbitkannya Jurnal Farmasi-Qu Bhumi Husada ini secara rutin atau berkala, tetapi hendaknya tantangan yang ada dapat menjadi dorongan bagi seluruh Dosen di Akademi farmasi Bhumi Husada Jakarta untuk selalu mengirimkan artikel pada edisi berikutnya.</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Perlu diingat bahwa Jurnal ini dapat memberikan kesempatan kepada seluruh dosen atau peneliti untuk mendeseminasikan karya-karya penelitian atau karya ilmiah agar bermanfaat bagi masyarakat luas.</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Semoga Jurnal Farmasi Bhumi Husada tetap terbit secara berkesinambungan dimasa depan dan Redaksi mengucapkan “Selamat Membaca”.</p> en-US akfarbhumihusadajkt@gmail.com (Mira Husni Sanjaya, SKM.,MPH) Sat, 10 Jan 2026 06:41:28 +0000 OJS 3.1.1.0 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN PENDERITA ASAM URAT DI APOTEK GAHARU DEPOK TAHUN 2025 https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/136 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Penyakit asam urat adalah kondisi yang ditandai dengan peradangan pada sendi akibat penumpukan kristal asam urat, penyakit&nbsp;ini dapat&nbsp;menyerang berbagai&nbsp;sendi di&nbsp;tubuh, seperti&nbsp;jari kaki, pergelangan kaki, lutut, dan jempol kaki. Tujuan penelitian ini untuk Menganalisis Faktor Faktor yang Berhubungan dengan&nbsp; Tingkat Pengetahuan Pasien Penderita Asam Urat di Apotek Gaharu Depok Tahun 2025.</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kuantitatif dengan alat instrument berupa kusioner yang dilakukan pada bulan &nbsp;Januari-Maret 2025. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus <em>slovin</em> yang mendapatkan hasil sebanyak 320 responden. Adapun yang memenuhi kriteria inklusi &nbsp;penelitian ini adalah pasien yang berusia 17- 65 tahun yang telah membeli obat dan menerima pelayanan di Apotek Gaharu Depok. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara <em>univariat</em> dan <em>bivariat</em> menggunakan program Ms, Excel dan <em>SPSS </em>versi 22.</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hasil penelitian ini menunjukan responden didominasi oleh usia 26-35 tahun (29,4%), berjenis kelamin perempuan (55,6%) Pendidikan SMA/SMK (52,8%). Tingkat pengetahuan pasien terhadap penyakit asam urat berada pada kategori cukup (42,2%), jenis obat didominasi <em>Allopurino</em>l (50%). Hasil pada uji hubungan karakteristik dengan tingkat pengetahuan di dapatkan hasil adanya hubungan yang diperoleh nilai p<em> value </em>0,000 (P <em>value </em>(&lt;0,05) untuk jenis kelamin diperoleh nilai P <em>value</em> 0,045 (&lt;0,05) Dapat disimpulkan bahwa pasien di Apotek Gaharu Depok memiliki tingkat pengetahuan cukup terhadap penyakit asam urat.</p> Lusiana Lusiana, Putri Okkyana Kusuma, Indrianti Poppy ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/136 Sat, 10 Jan 2026 00:00:00 +0000 ANALISA TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT DALAM PENGOBATAN SENDIRI (SWAMEDIKASI) BATUK DI KELURAHAN JATIRASA KOTA BEKASI TAHUN 2025 https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/139 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p>Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh di saluran pernapasan dan merupakan gejala suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap iritasi di tenggorokan karena adanya lendir, makanan, debu, asap dan sebagainya. Tujuan dari penelitian ini Untuk Menganalisa Tingkat Pengetahuan Masyarakat Dalam Pengobatan Sendiri (Swamedikasi) Batuk di Kelurahan Jatirasa Kota Bekasi.</p> <p>Penelitian ini mengambil 300 responden masyarakat RW 04 Kelurahan Jatirasa sebagai sampel. Metode penelitian ini kuantitatif analitik dengan bersifat non eksperimental dengan pendekatan<em> crocsectional</em>.</p> <p>Hasil penelitian didapatkan responden hasil rata-rata yang dikategorikan baik yaitu pengetahuannya baik (56,3%) yang cukup (18,7%) dan yang kurang (25,0%). Hubungan karakteristik responden dengan tingkat pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi batuk menggunakan analisis <em>chi square</em> dengan tingkat signifikan &lt;0,005 menunjukkan ada hubungan antara umur, Pendidikan, pekerjaan dan penghasilan dengan p value sebesar (0,000) Dan tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan p value sebesar (0,127).</p> <p>&nbsp;</p> Fitriati Retno, Kusuma Okkyana, Kunengsih Ayu ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/139 Sat, 10 Jan 2026 00:00:00 +0000 REGULASI EMOSI SEBAGAI FAKTOR PENENTU BURNOUT PADA TENAGA KESEHATAN DI RUMAH SAKIT “X” TAHUN 2025 https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/140 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kesehatan mental menurut WHO adalah keseimbangan psikis yang mendukung pengelolaan stres, aktualisasi diri, produktivitas, dan kontribusi sosial. Kelelahan mental dan emosional&nbsp; yang disebabkan oleh stres yang sering terjadi dalam pekerjaan yang biasanya dikenal dengan istilah kelelahan kerja. Menghindari kelelahan kerja bukanlah hal yang mudah bagi banyak orang, termasuk tenaga kesehatan, salah satu strategi efektif untuk mengatasi kelelahan kerja adalah regulasi emosi. Maka dari itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Regulasi Emosi Sebagai Faktor Penentu <em>Burnout</em> Pada Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit “X” Tahun 2025.</p> <p>Penelitian ini dilakukan pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit “X” Jakarta Timur. Jumlah sampel yang digunakan&nbsp; sebanyak 230 responden. Metode penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif dan bersifat non eksperimental dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>, penelitian ini menggunakan SPSS dan teknik pengumpulan data melalui <em>google form</em>. Data yang diperoleh diolah menggunakan uji <em>chi-square. </em></p> <p>Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara regulasi emosi dengan kelelahan kerja secara umum tidak memiliki hubungan dikarenakan nilai P-Values dari kedua hubungan ini 0,700 (P&gt;0,05). Karakteristik responden didominasi oleh perempuan sebanyak 81,7%, kelompok usia 26-35 tahun sebanyak 56,1%, pendidikan terakhir perguruan tinggi 97,4%, masa kerja 1-5 tahun 45,7%, jenis pekerjaan keperawatan 30,0% dan status kepegawaian honorer 43,9% dan juga hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara regulasi emosi dengan dimensi kelelahan kerja yaitu depersonalisasi p-value = 0.010 &lt; 0.05, tetapi untuk dimensi kelelahan emosional dan pengurangan pencapaian pribadi tidak terdapat hubungan yang signifikan.</p> Safitri Elly, Sari Wahyu Kartika, Sekar Putri Ayumi ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/140 Sat, 10 Jan 2026 00:00:00 +0000 ANALISA TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG ANTIBIOTIK PADA MASYARAKAT RW 01 KELURAHAN JATIRASA KECAMATAN JATIASIH KOTA BEKASI TAHUN 2025 https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/141 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p>Antibiotik adalah Obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi bakteri dengan membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Penggunaan antibiotik dapat bermanfaat dan menguntungkan apabila digunakan secara tepat, tetapi jika tidak digunakan secara tepat dapat menyebabkan resistensi. Resistensi antibiotik adalah kondisi di mana bakteri menjadi kebal terhadap pengobatan antibiotik. Tujuan penelitian ini Menganalisa Tingkat Pengetahuan Tentang Antibiotik Pada Masyarakat Rw 01 Kelurahan Jatirasa Kecamatan Jatiasih Kota Bekasi Tahun 2025.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga di RW 01. Sampel dihitung dengan menggunakan rumus Slovin, dengan jumlah sampel 300 responden yang memenuhi syarat inklusi</p> <p>Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 300 responden, jumlah terbanyak adalah usia 36-45 tahun yaitu 86 responden (28,7%), jenis kelamin perempuan 157 responden (52,3%), pendidikan terakhir SMA/Sederajat 209 responden (69,7%). Adapun tingkat pengetahuan masyarakat tentang antibiotik yang tergolong baik yaitu 62 responden (20,7%), cukup 183 responden (61,0%), kurang 55 responden (18,3%). Dari hasil uji chi square didapat hasil bahwa ada hubungan antara usia dengan tingkat pengetahun dengan nilai signifikansi 0,004. Demikian juga uji bivariate terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan dengan nilai signifikansi 0,038. Sedangkan Untuk pendidikan terakhir juga memiliki hubungan dengan tingkat pengetahuan dengan nilai signifikansi 0,000. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat di RW 01 Kelurahan Jatirasa mempunyai tingkat pengetahuan cukup mengenai antibitoik.</p> Indrianti Poppy, Safitri Elly, Sinurat Betsari ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/141 Sat, 10 Jan 2026 00:00:00 +0000 ANALISA TINGKAT PENGETAHUAN SISWA SMK NURUL HIKMAH JONGGOL TERHADAP FAKTOR RISIKO DM TAHUN 2025 https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/142 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Diabetes melitus (DM) adalah penyakit metabolik yang terus meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh gangguan fungsi insulin, baik akibat defisiensi produksi insulin atau ketidakresponsifan tubuh terhadap insulin. Prevalensi diabetes di Indonesia pada 2019 mencapai 19,47 juta orang, menjadikannya negara dengan jumlah penderita terbanyak kelima di dunia. Kasus diabetes pada remaja juga menunjukkan peningkatan yang signifikan, namun pengetahuan mengenai faktor risiko diabetes di kalangan remaja masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk Menganalisa Tingkat Pengetahuan Siswa Smk Nurul Hikmah Jonggol Terhadap Faktor Risiko DM Tahun 2025.</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 248 siswa dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Mayoritas responden berusia 15 tahun, berjenis kelamin perempuan, memiliki indeks massa tubuh normal, dan tidak memiliki riwayat keluarga diabetes. Tingkat pengetahuan responden sebagian besar berada pada kategori cukup (52,8%).</p> <p>&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia (p = 0,011), jenis kelamin (p = 0,000), dan riwayat keluarga diabetes melitus (p = 0,000) dengan tingkat pengetahuan. Namun, tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkatan kelas (p = 0,134) dan indeks massa tubuh (p = 0,441) dengan tingkat pengetahuan. Karakteristik usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat pengetahuan siswa mengenai faktor risiko diabetes melitus. Diperlukan edukasi kesehatan yang lebih menyeluruh untuk meningkatkan pemahaman siswa, terutama bagi mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga diabetes.</p> Sanjaya Mira Husni, Fitriati Retno, Salsabila Valentina ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/142 Sat, 10 Jan 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TERHADAP SWAMEDIKASI OBAT ANTIHISTAMIN DI APOTEK K-24 MEKARSARI TAHUN 2025 https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/143 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Pengetahuan merupakan efek lanjutan dari keingintahuan individu berkenaan dengan objek melalui indra yang dimiliki. Setiap individu memiliki pengetahuan yang tidak sama karena pengindraan setiap orang mengenai suatu objek berbeda-beda. Swamedikasi merupakan perilaku mengkonsumsi obat sendiri berdasarkan diagnosis terhadap gejala sakit yang terjadi. Antihistamin adalah zat yang digunakan untuk mencegah atau menghambat kerja histamin pada reseptornya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Swamedikasi Obat Antihistamin di Apotek K-24 Mekarsari.</p> <p>Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif melalui pendekatan <em>chi-squre</em> dengan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditetapkan peneliti. Jumlah responden sebanyak 380 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan program SPSS versi 2022 dengan uji statistik <em>chi-square.</em></p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar tingkat pengetahuan di kategorikan cukup sebanyak 185 responden (48,7%), berusia 17 – 25 tahun sebanyak 170 responden (44,7%), dengan pendiidkan terakhir SMA/SMK sebanyak 310 responden (81,6%) dan pekerjaan sebagian besar karyawan swasta sebanyak 202 responden (53,2%). Terdapat hubungan yang signifikan antara pendiidkan terakhir dan status pekerjaan dengan nilai signifikansi untuk pendidikan terakhir 0,000 (p&lt;0,05) dan 0,001 (p&lt;0,05) untuk status pekerjaan, namun tidak terdapat hubungan antara usia dan jenis kelamin dengan Gambaran Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Swamedikasi Antihistamin di Apotek K-24 Mekarsari.</p> Sari Wahyu Kartika, Sanjaya Mira Husni, Aprillia Mahda ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/143 Sat, 10 Jan 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN TERHADAP OBAT ANALGESIK DI APOTEK K-24 CILILITAN BESAR JAKARTA TIMUR TAHUN 2025 https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/144 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Analgesik merupakan salah satu jenis obat yang paling sering digunakan masyarakat untuk meredakan nyeri. Apotek menyediakan berbagai jenis obat analgesik namun masih banyak masyarakat yang belum memiliki pengetahuan yang memadai terkait dosis, indikasi, efek samping serta cara penggunaanya secara tepat dan aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan tingkat pengetahuan pasien/ pengunjung terhadap obat analgesik di Apotek K-24 Cililitan Besar.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan Teknik <em>Purposive Sampling </em>dalam pengambilan sampel. Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus <em>slovins, </em>sehingga diperoleh 400 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Adapun kriteria inklusi dalam penlitian ini adalah responden yang berusia 17-65 tahun yang merupakan pasien/pengunjung Apotek K-24 Cililitan Besar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis <em>univariat</em> dan <em>bivariat</em> dengan uji <em>chi square</em>.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden terbanyak berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 233 responden (58,25%), rentang usia terbanyak adalah usia 26-35 tahun dengan jumlah 135 responden (33,75%), tingkat pendidikan terbanyak adalah tingkat pendidikan SMA/SMK dengan jumlah responden 284 (71%), sedangkan pekerjaan terbanyak adalah&nbsp; pegawai swasta dengan jumlah responden 180 (45%). Adapun tingkat pengetahuan masyarakat mengenai obat analgesik terbanyak menunjukkan kategori cukup, yaitu sebanyak 185 responden (46.25%). Selain itu, kategori kurang sebanyak 141 responden (35,25%) dan kategori baik sebanyak 74 responden (18,50%). Obat analgesik yang paling banyak digunakan responden adalah Paracetamol. Hasil analisis <em>bivariat </em>menunjukan adanya hubungan antara karakteristik berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan dan status pekerjaan dimana hasil <em>p-value</em> &lt; 0,05.</p> Chusun Chusun, Istikayati Sri Nur, Hardiyanto Hania ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/144 Sat, 10 Jan 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN APOTEK 23 PLUS KOTA BEKASI TAHUN 2025 https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/145 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pelayanan kefarmasian di apotek merupakan komponen esensial dalam sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kepuasan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Hubungan tingkat kepuasan konsumen terhadap pelayanan kefarmasian di Apotek 23 Plus Kota Bekasi dengan pendekatan lima dimensi yaitu kehandalan, ketanggapan, jaminan, empati, dan bukti fisik serta karakteristik pasien di Apotek 23 Plus Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik survei terhadap 364 responden selama periode Januari–Maret 2025.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan tertinggi berada pada dimensi empati sebanyak 257 orang (70,3%), diikuti dimensi jaminan sebanyak 247 orang (67,9%), dimensi kehandalan sebanyak 231 orang (63,4%), dimensi bukti fisik sebanyak 207 orang (56,8%), dan dimensi ketanggapan sebagai dimensi terendah sebanyak 204 orang (56%). Sedangkan untuk Karakteristik pasien mayoritas pasien adalah perempuan sebanyak 211 orang (58%), berusia 26–35 tahun sebanyak 111 orang (30,8%), berpendidikan SMA/sederajat sebanyak 175 orang (48,1%), dan yang tinggal dalam radius 1–2 km dari apotek sebanyak 120 orang (33%).</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hasil ini mencerminkan bahwa Apotek 23 Plus telah memberikan pelayanan kefarmasian yang cukup baik, terutama dalam aspek interpersonal dan keamanan obat, namun masih perlu ditingkatkan responsivitas dan efisiensi layanan. Penelitian ini menggaris bawahi pentingnya optimalisasi kelima dimensi mutu layanan untuk membangun loyalitas dan kepercayaan pasien. Hal ini juga memperkuat hasil studi sebelumnya yang menekankan bahwa empati dan jaminan merupakan penentu utama dalam kepuasan pasien di sektor pelayanan kefarmasian.</p> <p>&nbsp;</p> Istikayati Sri Nur, Chusun Chusun, Annisa Annida Budi ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.akfarbhumihusada.ac.id/index.php/BHJ/article/view/145 Sat, 10 Jan 2026 00:00:00 +0000